PELATIHAN BUDAYA KERJA

BUDAYA KERJA & PRIBADI KHARISMATIK

KERANGKA BERPIKIR

Pelatihan di alam terbuka merupakan sebuah simulasi kehidupan , karena manusia pada dasarnya dapat memahami kehidupan dari alam semesta. Alam semesta adalah sumber kearifan, dan tempat belajar bagi semua orang. Oleh karena itu Tuhan diberbagai kitab suci menyuruh manusia untuk membaca makna yang ada di alam semesta. Bagaimana lebah dan semut berbagi tugas telah banyak memberikan inspirasi pengelola manajemen. Dengan membaca makna di alam manusia akan tergiring juga membangun kekuatan spiritual dengan ciri integritas atau kejujuran, energi atau semangat, inspirasi atau ide inisiatif, bijaksana, dan keberanian dalam mengambil keputusan, terutama dalam kegiatan organisasi.

Kegiatan dalam organisasi perusahaan yang sangat  kompleks sebenarnya dapat disimulasikan ke dalam suatu bentuk kegiatan sederhana Dunia yang komplek akan sulit dipahami apabila tidak di buat sedrehana. Oleh karena itu untuk memudahkan pemahaman perusahaan yang kompleks perlu dicari cara sederhana. Permainan di dalam kegiatan outbound adalah cara untuk menggambarkan kehidupan yang kompleks dengan cara sederhana, sehingga mudah untuk memehami kompleksitas kehidupan.

Metode outbound menggunakan cara yang memberikan sebuah pengalaman langsung kepada peserta pelatihan. Suatu kehidupan organisasi disimulasikan melalui sebuah permainan yang secara langsung dirasakan oleh setiap peserta pelatihan. Peserta langsung merasakan sukses atau gagal di dalam pelaksanaan sebuah tugas. Kalau terjadi sebuah kesuksesan peserta segera tahu perilaku apa yang membuat mereka (tim kerja) sukses. Sebaliknya kalau tim kerja gagal dalam melaksanakan sebuah tugas peserta langsung mengetahui perilaku mana yang menjadi penyebab kegagalan itu. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan tersebut membuat peserta terlibat langsung secara kognitif (pikiran), afektif (emosi), dan psikomotorik (gerakan fisik motorik).

Metode outbound dilakukan dengan penuh kegembiraan, karena dilakukan dengan permainan.Permainan biasanya disukai oleh setiap orang. Menurut pakar analisis transaksional Eric Berne (dalam Djamaluddin Ancok) pada diri setiap orang ada komponen kehidupan sebagai orang tua, sebagai orang dewasa, dan sebagai anak. Komponen diri sebagai orang tua diwujudkan dalam perilaku menasehati orang lain. Komponen pribadi sebagai orang dewasa ditunjukkan pada saat berdialog dengan akal sehat. Komponaen pribadi anak-anak terlihat dari perilaku meminta perhatian, kasih sayang dan perilaku bermain seperti anak-anak. Bermain adalah bagian dari kegembiraan sebagai anak-anak. Metode ini adalah salah satu sarana untuk menemukan kembali pengalaman masa kecil yang penuh gembira, dan memberikan sebuah hiburan yang menarik bagi peserta yang mengalami masa kecil kurang bahagia.

Proses belajar dari metode outbound melalui tahapan :

1. Pembentukan pengalaman (Experience):

Pada tahapan ini peserta dilibatkan dalam suatu kegiatan atau permainan bersama orang lain. Kegiatan/ permainan adalah salah satu bentuk pemberian pengalaman secara langsung pada peserta pelatihan. Pengalaman langsung tersebut akan dijadikan wahana untuk menimbulkan pengalaman intelektual, pengalaman emosional, dan pengalaman yang bersifat fisik. Melalui pengalaman tersebut peserta siap untuk memasuki tahap kegiatan yang disebut dengan PENCARIAN MAKNA (debriefing)

2. Perenungan pengalaman (Reflect)

Kegiatan refleksi bertujuan untuk memproses pengalaman yang diperoleh dari kegiatan yang telah dilakukan. Setiap peserta dalam tahapan ini melakukan refleksi tentang pengalaman pribadi yang dirasakan pada saat kegiatan berlangsung. Apa yang dirasakan, secara intelektual, emosional dan fisik. Dalam melakukan refleksi peserta biasanya menceritakan pengalaman pribadi masing-masing pada berbagai tingkatan belajar. Pengkategorian level belajar menurut Bloom, berdasarkan pada kompleksitas proses berpikir yaitu:

Knowledge. Pada level ini orang hanya mengingat peristiwa yang terjadi dan menceritakan apa yang terjadi hanya sebagai fakta

Comprehension: Pada level ini orang menginterpretasikan apa yang terjadi . Dalam tahapan ini peserta sudah melakukan olah pikir untuk memaknai permainan yang dilakukan.

Application. Di tingkat ini orang melakukan penerapan secara sederhana dari apa yang dipelajari. Pada level ini kegiatan oleh pikir semakin tinggi intensitasnya. Proses berpikir kreatif perlu dimiliki peserta agar dia bisa melihat manfaat kegiatan dalam pelatihan pada kehidupan sehari-hari di luar pelatihan.

Analysis. Pada tingkatan ini orang memecahkan hal yang dialami dalam berbagai komponen dan melihat keterkaitan satu dengan lainnya. Pada level ini oleh pikir yang dilakukan tertuju pada upaya membangun pemikiran yang sistematik.

Synthetis. Di level ini orang menggabungkan potongan pengetahuan untuk memecahkan suatu masalah. Pada tahap ini pemikiran sistematik tadi dilanjutkan ke level yang lebih tinggi untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Evaluation. Di level ini orang mengevaluasi manfaat sebiah gagasan, solusi masalah, dan peristiwa yang dialaminya.

3. Pembentukan konsep (Form concept)

Pada tahapan ini para peserta mencari makna dari pengalaman intelektual, emosional, dan fisik yang diperoleh dari keterlibatan dalam kegiatan. Pengalaman apakah yang di tangkap dari suatu permainan, dan apa arti permainan tersebut bagi kehidupan pribadi maupun dalam hubungan dengan orang lain.Kalau dikaitkan dengan situasi kerja sesungguhnya ditempat kerja , perilaku yang dialami adi menggambarkan situasi kerja yang bagaimana ?

4. Pengujian konsep (Test concept)

Pada tahapan ini para peserta diajak untuk merenungkan dan mendiskusikan sejauhmana konsep yang telah terbentuk dalam tahapan ketiga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, di aktor atau dimana saja. Misal: apakah perilaku yang tadi anda ceritakan bila diterapkan di tempat kerja akan membuat pekerjaan anda sukses ?

TUJUAN PELATIHAN

  1. Meningkatkan kekuatan spiritual karyawan untuk mendukung keberhasilan membangun kekuatan tim dan keberhasilan dalam bekerja.
  2. Meningkatkan kemampuan karyawan untuk bekerjasama dalam tim mengacu pada visi, misi dan nilai organisasi (kemandirian, keterbukaan, dan integritas)
  3. Meningkatkan motivasi dan keyakinan diri karyawan akan kemampuan diri (personal development) dan berpikir kreatif (inovasi). Orientasi kerja berfokus pada proses dan hasil.
  4. Meningkatkan kebersamaan dan rasa saling percaya (trust) dan bekerja berdasarkan tim.
  5. Penyegaran dan memecahkan kekakuan birokrasi sehingga terjadi kerjasama antar unit organisasi.

SASARAN PELATIHAN

Sasaran pelatihan ini adalah untuk mengembangkan berbagai komponen perilaku karyawan guna menunjang kelancaran pelaksanaan tugas sehari-hari. Komponen perilaku yang diharapkan tumbuh dari pelaksanaan pelatihan adalah:

A. Berkarakter spiritual

  1. Kemampuan untuk jujur dan memiliki intergritas
  2. Kemampuan Amanah, (bertanggung jawab pada tugas yang diberikan)
  3. Bijaksana dalam membuat keputusan.

B. Berpikir kreatif

  1. Kemampuan untuk mengembangkan gagasan kreatif dari diri sendiri
  2. Kemampuan untuk memancing munculnya gagasan kreatif dari orang lain
  3. Kemampuan untuk meyakinkan orang lain untuk menyetujui dan mengimplementasikan gagasan
  4. Kemampuan menyelesaikan konflikdalam kondisi menang-menang
  5. Kemampuan bernegosiasi dengan pihak laindalam situasi menang-menang
  6. Kemampuan membangun kerjasama dalam tim dengan menggerakkan kawan sesama tim kearah tujuan.
  7. Kemampuan membangkitkan semangat kerja tim (team spirit)
  8. Kemampuan mengatasi hambatan yang dihadapi oleh tim dalam mencapai tujuan

C. Mempunyai hubungan interpersonal yang baik

  1. Mau mendengar dn menghargai pendapat orang lain
  2. b. Membangun rasa percaya (trust) pada orang lain
  3. Menghargai perbedaan
  4. Melihat kelemahan orang lain bukan sebagai kendala
  5. Melihat orang lain sebagai bagian dari sukses diri sendiri dan sukses tim
  6. Terbuka atas masukan (kritik dan saran) dari orang lain
  7. Tidak memaksakan kehendak diri sendiri
  8. Bersedia menolong orang lain dan mau ditolong orang lain.

D.  Berkomunikasi secara efektif

  1. Berusaha untuk menyampaikan informasi kepada pihak lain demi kesuksesan bersama.
  2. Mengkomunikasikan ide kepada orang lain dengan jelas dan sistematik
  3. Menyampaikan kritik dan saran tanpa menyinggung perasaan orang lain.
  4. Merangsang orang lain untuk mengajukan gagasan alternatif
  5. Bersedia bertanya bila ada ketidakjelasan informasi
  6. Berusaha memahami kesulitan orang lain dalam menerima informasi

E.  Memotivasi diri dan orang lain

  1. Mengembangkan inisiatif dan kreativitas diri untuk kesuksesan tim
  2. Bekerja melebihi harapan (beyond the call of duty)
  3. Melihat kesulitan sebagai sesuatu yang menantang
  4. Berani mengambil resiko
  5. Membangkitkan semangat orang lain
  6. Menghangatkan suasana dengan sifat humoris.

F.  Mempunyai kemampuan dalam pengelolaan diri

  1. Pengembangan kebiaaan hidup yang efektif ( 7 habits)
  2. Tidak kehilangan kontrol emosi dalam menghadapi tantangan
  3. Tidak menarik diri bila berhadapan dengan kesulitan dan tantangan
  4. Tegar dalam menghadapi situasi panik
  5. Tidak menganggap dirinya sebagai orang yang paling berjasa dalam kesuksesan kerja tim.

METODE PELATIHAN

  1. Permainan kelompok
  2. Kerja kelompok
  3. Petualangan individual
  4. Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsip manajemen)
  5. Diskusi (refleksi kegiatan).

Contact Person : Taufik Hidayat (0813 8683 0989)